Senin, 19 Januari 2009

Mikro Tak Terpatahkan

Anda terkena PHK? Kesulitan mendapatkan pekerjaan? Jangan putus asa dulu. Tidak menjadi pegawai kantoran atau karyawan sebuah perusahaan besar, bukan berarti kiamat. Banyak jalan untuk tetap bertahan hidup. Yang terpenting adalah kemauan dan berpikir positif.

Bidang usaha berskala mikro, kecil atau menengah, menantang anda untuk bergelut di dalamnya. Aneka macam peluang untuk sukses terbuka lebar di sana.

Berikut adalah sebuah tulisan dari ruang berita Harian Republika yang semoga bisa membuat anda termotivasi agar bangkit dari keterpurukan atau memulai usaha untuk kehidupan yang lebih baik. Semangat!

Mikro Tak Terpatahkan

Di tengah meredupnya bisnis perusahaan-perusahaan besar akibat dampak krisis keuangan global, sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) banyak yang tetap mampu bertahan, bahkan terus berkembang. ”Sektor UMKM tak terpatahkan oleh krisis keuangan global,” tegas pemilik jaringan bisnis Ayam Bakar Wong Solo (ABWS) Group, Puspo Wardoyo.

Dia menyebutkan, ketika banyak bisnis besar berguguran, justru banyak usaha mikro, kecil dan menengah yang malah terus tumbuh dan berkembang. Salah satunya adalah ABWS Group, yang mencakup Ayam Bakar Wong Solo, Mie Jogja Pak Karso, Mie Kocok Bandung, Ayam Penyet Surabaya, Nasi Timbel Mang Uha, Sate Kambing Solo, Mie Ayam Kq 5 dan Steak Kq 5. ”Rata-rata setiap dua sampai tiga minggu sekali kami membuka cabang baru Mie Jogja Pak Karso, Mie Kocok Bandung maupun Ayam Penyet Surabaya,” tuturnya.

Ia mengatakan, hingga awal Desember 2008, outlet Mie Jogja Pak Karso sudah mencapai 26 cabang, tersebar di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. ”Dalam satu tahun ini kami membuka 20 cabang Mie Jogja Pak Karso, dan kami akan terus ekspansi pada tahun depan,” ujarnya.

Sementara itu, Mie Kocok Bandung yang baru dikembangkan dalam waktu satu tahun saat ini sudah mencapai 18 cabang, tersebar di Jawa dan Sumatera. ”Ayam Penyet Surabaya juga baru kami rintis selama satu tahun dan telah berkembang menjadi 16 cabang, baik di Jawa, Sumatera, maupun Kalimantan,” paparnya.

Puspo mengemukakan, di era krisis seperti ini bisnis restoran besar dengan investasi miliaran rupiah kurang menjanjikan. ”Peluang terbesar ada di restoran kecil yang investasinya antara Rp 100 juta sampai Rp 150 juta,” tandasnya.
Lebih jauh ia menjelaskan, bisnis makanan (restoran) yang punya peluang besar untuk dikembangkan adalah yang mengincar segmen menengah ke bawah; kapasitas usahanya kecil sehingga investasinya juga kecil; dan dekorasinya pun sederhana, sehingga kelas menengah bawah tidak sungkan datang ke sana. ”Saat ini pembeli terbesar, khususnya restoran, adalah masyarakat menengah ke bawah. Mereka kemampuan finansialnya tidak terlalu besar, tapi jumlahnya sangat banyak, puluhan juta orang. Sedangkan masyarakat menengah ke atas, kemampuan finansialnya tinggi, namun jumlahnya relatif sedikit. Selain itu, mereka itu menuntut penyajian tempat maupun standar pelayanan yang tinggi,” ujarnya.

Daya tahan tinggi

Pemilik Country Donuts, Khoerussalim mengemukakan, UMKM mampu bertahan dalam situasi dan kondisi krisis karena semuanya serba simpel (sederhana). ”Dari dulu, UMKM itu menjadi penyelamat bangsa dan mempunyai daya tahan yang sangat kuat, karena simpel. Produksinya simpel, tenaganya simpel, bisnisnya juga simpel. Dalam bisnis UMKM, yang memproduksi saya, yang memasarkan saya, yang mendistribusikan saya, yang makan hasilnya juga saya,” paparnya.

Namun, di balik alasan simpel tadi, ada hal substansial yang membuat UMKM mampu terus bertahan, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. ”Karena mereka harus makan. Para pelaku usaha kecil dan mikro itu berbisnis hari ini untuk makan hari ini. Kalau bisnisnya tidak berputar, mereka tidak bisa makan hari ini. Hal itulah yang membuat usaha kecil dan mikro mempunyai daya survive yang tinggi,” tandasnya.

Khoerussalim menjelaskan, hal itu tidak hanya berlaku di Indonesia. ”Di mana-mana, usaha kecil dan mikro itu sama. Mereka harus bisa bertahan, karena mereka harus makan,” katanya.

Berbeda halnya dengan perusahaan-perusahaan besar. Para pemiliknya mengembangkan usaha bisnis bukan untuk makan, melainkan untuk eksistensi. ”Karena itu mereka melakukan berbagai hal untuk meningkatkan eksistensi dirinya, antara lain melalui portofolio saham,” jelasnya.

Di samping itu, usaha besar itu sistemik. Yang memproduksi, yang mendistribusikan, yang memasarkan, dan yang mengurus keuangan, berbeda orangnya. Semua itu memerlukan biaya, sehingga cenderung berbiaya tinggi (high costi). Sedangkan usaha kecil dan mikro itu tidak ada sistemnya. Serba simpel. Sistemnya adalah dirinya sendiri,” kata Khoerussalim yang juga Presiden Direktur Entrepreneur College, sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan bisnis. ***

Tidak ada komentar: